24 Januari 2013, tepat 11 tahun lalu dia ucapkan janji suci itu.
Janji untuk menerima tanggungjawab dan peran yang selama ini ada di pundak bapak. Peran membimbing dan memimpin anak perempuannya untuk bisa menjadi wanita sholihah, sebagai seorang suami.
Wawan Purnomo namanya, orang yang kutemui pertama kali di tahun 2007, ketika diriku masih berstatus mahasiswa tingkat awal. Pertemuan pertama yang begitu singkat namun berkesan. Tepat setelah rumah kami dilanda banjir yang membuat beberapa orang kerepotan, dia datang layaknya oase di tengah gurun, memberi sedikit harapan. Yaa, saat itu banjir dan semua ATK serta iqro yang digunakan anak-anak TPA basah tergenang air. Saya dan beberapa teman yang kebetulan mengajar di TPA tersebut kebingungan bagaimana kami harus mengajar anak-anak lagi.
Namun tak disangka, di sore hari bada ashar, ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumah, menurunkan sejumlah barang donasi untuk TPA. Belasan buku, pensil dan iqro mereka sumbangkan. Diantarkan oleh seorang pria tinggi berkacamata yang mengaku sebagai Ketua RISKA (Remaja Islam Kampungbaru). Dia berikan donasinya untuk murid-murid di TPA kami. Kekaguman yang hanya sepintas itu mengambil ruang tersendiri di hati.
Hingga kemudian beberapa bulan berlalu, ketika ada Peresmian sebuah TK di wilayah kami oleh Pak Amien Rais waktu itu, dia datang berdua bersama temannya dengan mengayuh sebuah sepeda federal kuno. Pertemuan singkat yang masih saja teringat.
3 tahun berlalu, tanpa kabar, tanpa berita, Allah pertemukan kami kembali di tahun 2010, di kala hati ini sedang goyah dan gelisah. Dia datang untuk selalu mendukung dan menguatkan hingga akhirnya setelah 2 tahun kami menjalin hubungan, dia beranikan diri untuk berucap ikrar suci. Janji untuk bisa saling melengkapi demi mendapatkan mahligai rumah tangga yang kekal hingga ke syurga nanti.
Selamat menapaki dekade kedua pernikahan kita suamiku.