Senin, 22 Januari 2024

Rumah yang Tak Bisa Dianggap Rumah

Sedih, kantuk,  amarah, lelah,  berkecamuk menjadi satu dalam diri. Keraguan yang selama ini menjadi tanya tanya terjawab sudah. 
Ketika berkali-kali diri ini bertanya, apakah akan ada biaya ketika pimpinan cabang menggunakan fasilitas Aula Balai Muhammadiyah Solo ? 
Ketika berkali-kali muncul tanda tanya,  apakah tanpa biaya hanya diperuntukkan bagi organisasi otonom tingkat daerah,  sementara bagaimana dengan cabang? 

Hari ini,  5 hari menjelang pelaksanaan Seminar Kewirausahaan sebagai Gebyar Musyawarah Cabang,  sebuah pesan whatsapp masuk.  Tertulis seseorang bernama Pak Sholihin sebagai pengirim pesan.  Beliau adalah salah satu staff rumah tangga di Balai Muhammadiyah Solo,  yang memang dari awal saya hubungi terkait teknis peminjaman Aula Balai Muhammadiyah. Dan beginilah jawaban beliau. Kami hanya disuruh untuk membuat sebuah surat,  tanpa adanya pemberitahuan berapa biaya dan persyaratan lain yang harus kami persiapkan. Chat kami tertanggal 3 Januari 2024. 

Tak berlangsung lama,  surat itu pun kami masukkan. Tanpa ada pemberitahuan lanjutan,  18 hari berselang tiba-tiba siang ini saya mendapat kejutan. 

Terkejut sekali ketika Pak Sholihin mengirim tarif yang harus kami bayarkan ketika memakai Aula Balai Muhammadiyah Solo. Dimana tercantum tarif bagi eksternal senilai 2,5 juta,  internal 1 juta dan juga taklim 750rb. Ketika saya tanyakan apakah tidak ada keringanan untuk ortom cabang, kami mendapat tarif 500rb rupiah. 

Seperti mendapat berita yang sangat mengejutkan saya kaget dengan tarif yang harus kami tanggung.  Bagaimana tidak,  kami sebagai ortom cabang bukanlah organisasi yang berpenghasilan / profit. Banyaknya agenda kegiatan sering menggunakan uang pribadi. Dan ketika saya anggap Balai Muhammadiyah sebagai rumah bagi pergerakan kami,  ternyata saya salah besar.  Dengan dalih kami bukan organisasi yang ada di dalam Pimpinan Daerah Muhammadiyah, kami harus menanggung biaya sebesar itu,  sementara pendanaan pun belum bisa memenuhi semua pos anggaran. 

Apa bedanya di cabang dengan mereka mereka yang ada di daerah?  Justru disinilah kami berjuang demi persyarikatan,  tapi malah dianak tirikan. 
Semoga nanti suatu saat kami bisa memiliki tempat yang nyaman untuk bisa digunakan sebagai basecamp kegiatan,  layaknya mereka mereka yang merasa dirinya sebagai Pimpinan Daerah. 

Tak Lagi Berlomba Menjadi Seperti Orang Lain

Hai, perkenalkan saya Diah Ellyana. Seorang ibu rumah tangga biasa yang mencoba berbagai aktivitas mulai dari berbisnis dari rum...