Minggu, 28 Januari 2024

Mari bermuhasabah dan senantiasa Husnudzon pada setiap ketentuanNya

Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita tidak pernah tahu masa lalu dan pengalaman apa yang sudah dilalui hingga membentuk watak dan karakter seseorang. Layaknya warna,  manusia seperti abu-abu, ada sisi terang dan sisi gelapnya masing-masing. Bisa jadi yang terlihat lebih gelap di mata kita,  akan juga terlihat gelap di mata orang lain. Begitu pun sebaliknya.  Ada sisi terang yang kita lihat,  belum tentu juga bisa dilihat dengan kacamata orang lain.  Untuk itulah Allah dan RasulNya melarang kita berburuk sangka.  Terlebih dengan setiap ketentuan dan ketetapannya. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam kitabNya, wa laa tay'asu mirrouhillah,  janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Ini adalah larangan bagi kita untuk berburuk sangka dan berputus asa dari rahmatNya, sekaligus juga perintah Allah untuk selalu berhusnudzon dan mengharap rahmat serta ridhoNya. 

Karena itu jangan sampai kita menghakimi,  baik menghakimi diri sendiri maupun orang lain ketika berbuat salah atau khilaf. Karena memang manusia adalah tempatnya salah dan dosa,  hanya mereka yang bertobat dan senantiasa berhusnudzonlah yang akan mendapat rohmat dari Yang Maha Esa. Bertobat tak hanya pada Yang Kuasa,  tapi juga maaf kita kepada sesama. Tugas kita adalah menyadari kesalahan serta meminta ampunan dan maafNya, agar Allah ridho dengan setiap tindakan yang kita lakukan. 
Hak Allah untuk memberikan maaf dan ridhonya. 

Begitu pun kesalahan kita terhadap manusia.  Tugas kitalah untuk menyadari dan meminta maaf pada si empunya hati. Perkara mau memaafkan atau tidak,  itu adalah urusannya semata dengan Sang Maha Pembolak Baik Hati. Percayalah dan berbaik sangkalah pada Sang Kuasa. Karena Dialah Sang Maha Pengatur Rencana,  layaknya sang sutradara serta penulis skenario kehidupan. Setiap yang kita lalui sudah diatur oleh Sang Pemberi Rencana. Tugas kita hanyalah berusaha, tanpa menghakimi ba bi bu ini dan itu.  Agar Allah senantiasa memberikan kemudahan dan keridhoannya bagi kita,  bagi setiap jalan hamba-hambaNya yang mau berbaik sangka pada Sang Maha Kuasa. 

Rabu, 24 Januari 2024

Selamat Menapaki Dekade Kedua Pernikahan Kita Suami


24 Januari 2013, tepat 11 tahun lalu dia ucapkan janji suci itu. 
Janji untuk menerima tanggungjawab dan peran yang selama ini ada di pundak bapak. Peran membimbing dan memimpin anak perempuannya untuk bisa menjadi wanita sholihah,  sebagai seorang suami. 

Wawan Purnomo namanya,  orang yang kutemui pertama kali di tahun 2007, ketika diriku masih berstatus mahasiswa tingkat awal.  Pertemuan pertama yang begitu singkat namun berkesan.  Tepat setelah rumah kami dilanda banjir yang membuat beberapa orang kerepotan,  dia datang layaknya oase di tengah gurun,  memberi sedikit harapan. Yaa,  saat itu banjir dan semua ATK serta iqro yang digunakan anak-anak TPA basah tergenang air.  Saya dan beberapa teman yang kebetulan mengajar di TPA tersebut kebingungan bagaimana kami harus mengajar anak-anak lagi. 

Namun tak disangka, di sore hari bada ashar,  ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumah, menurunkan sejumlah barang donasi untuk TPA.  Belasan buku,  pensil dan iqro mereka sumbangkan. Diantarkan oleh seorang pria tinggi berkacamata yang mengaku sebagai Ketua RISKA (Remaja Islam Kampungbaru).  Dia berikan donasinya untuk murid-murid di TPA kami. Kekaguman yang hanya sepintas itu mengambil ruang tersendiri di hati.  

Hingga kemudian beberapa bulan berlalu,  ketika ada Peresmian sebuah TK di wilayah kami oleh Pak Amien Rais waktu itu,  dia datang berdua bersama temannya dengan mengayuh sebuah sepeda federal kuno. Pertemuan singkat yang masih saja teringat.  

3 tahun berlalu,  tanpa kabar, tanpa berita,  Allah pertemukan kami kembali di tahun 2010, di kala hati ini sedang goyah dan gelisah.  Dia datang untuk selalu mendukung dan menguatkan hingga akhirnya setelah 2 tahun kami menjalin hubungan, dia beranikan diri untuk berucap ikrar suci. Janji untuk bisa saling melengkapi demi mendapatkan mahligai rumah tangga yang kekal hingga ke syurga nanti. 

Selamat menapaki dekade kedua pernikahan kita suamiku. 
Semoga kita bisa makin dewasa dalam bertindak,  bisa menjadi suami dan istri yang lebih baik serta bisa menunaikan amanah sebagai orang tua yang baik untuk anak-anak. 

Senin, 22 Januari 2024

Rumah yang Tak Bisa Dianggap Rumah

Sedih, kantuk,  amarah, lelah,  berkecamuk menjadi satu dalam diri. Keraguan yang selama ini menjadi tanya tanya terjawab sudah. 
Ketika berkali-kali diri ini bertanya, apakah akan ada biaya ketika pimpinan cabang menggunakan fasilitas Aula Balai Muhammadiyah Solo ? 
Ketika berkali-kali muncul tanda tanya,  apakah tanpa biaya hanya diperuntukkan bagi organisasi otonom tingkat daerah,  sementara bagaimana dengan cabang? 

Hari ini,  5 hari menjelang pelaksanaan Seminar Kewirausahaan sebagai Gebyar Musyawarah Cabang,  sebuah pesan whatsapp masuk.  Tertulis seseorang bernama Pak Sholihin sebagai pengirim pesan.  Beliau adalah salah satu staff rumah tangga di Balai Muhammadiyah Solo,  yang memang dari awal saya hubungi terkait teknis peminjaman Aula Balai Muhammadiyah. Dan beginilah jawaban beliau. Kami hanya disuruh untuk membuat sebuah surat,  tanpa adanya pemberitahuan berapa biaya dan persyaratan lain yang harus kami persiapkan. Chat kami tertanggal 3 Januari 2024. 

Tak berlangsung lama,  surat itu pun kami masukkan. Tanpa ada pemberitahuan lanjutan,  18 hari berselang tiba-tiba siang ini saya mendapat kejutan. 

Terkejut sekali ketika Pak Sholihin mengirim tarif yang harus kami bayarkan ketika memakai Aula Balai Muhammadiyah Solo. Dimana tercantum tarif bagi eksternal senilai 2,5 juta,  internal 1 juta dan juga taklim 750rb. Ketika saya tanyakan apakah tidak ada keringanan untuk ortom cabang, kami mendapat tarif 500rb rupiah. 

Seperti mendapat berita yang sangat mengejutkan saya kaget dengan tarif yang harus kami tanggung.  Bagaimana tidak,  kami sebagai ortom cabang bukanlah organisasi yang berpenghasilan / profit. Banyaknya agenda kegiatan sering menggunakan uang pribadi. Dan ketika saya anggap Balai Muhammadiyah sebagai rumah bagi pergerakan kami,  ternyata saya salah besar.  Dengan dalih kami bukan organisasi yang ada di dalam Pimpinan Daerah Muhammadiyah, kami harus menanggung biaya sebesar itu,  sementara pendanaan pun belum bisa memenuhi semua pos anggaran. 

Apa bedanya di cabang dengan mereka mereka yang ada di daerah?  Justru disinilah kami berjuang demi persyarikatan,  tapi malah dianak tirikan. 
Semoga nanti suatu saat kami bisa memiliki tempat yang nyaman untuk bisa digunakan sebagai basecamp kegiatan,  layaknya mereka mereka yang merasa dirinya sebagai Pimpinan Daerah. 

Sabtu, 20 Januari 2024

Tulisan Pertama di Tahun 2024


Tulisan pertama di tahun 2024, menyimpan beribu harapan dan asa,  seperti kebanyakan tahun-tahun sebelumnya. Namun,  apakah hanya akan berakhir seperti rutinitas resolusi tiap tahun yang tetap akan menjadi wacana tanpa terwujud sebagai realita? 
Entahlah,  diri ini pun tak tahu. Terkadang apa yang sudah dituliskan,  menjadi hanya sebatas impian yang rasanya sulit dicapai. Apakah karena mimpinya terlalu tinggi sehingga sulit diri ini membangun tangga demi tangga untuk dinaiki? 
Ataukah memang kurangnya semangat dalam diri,  hingga tak tahu dan bahkan tak bisa untuk melangkah mencapai apa yang sudah diimpikan?  

Pernah mendengar seseorang berkata,  lebih baik bermimpi besar yang nantinya akan terwujud,  daripada menyesal bermimpi kecil yang sudah pasti akan terwujud. 

Mengingat kata-kata ini membuat diri ingin rasanya menggantungkan impian, namun hal ini seperti mengulang ulang impian tahun sebelumnya,  yang tak tahu bagaimana harus meraihnya. 

Karena itu kuputuskan untuk menuliskan impian menjadi tujuan. Tujuan yang tiap tahun bisa dijadikan bahan acuan. Tujuan yang hanya berlaku dalam kurun waktu tertentu. Tujuan yang bisa dicapai jika kuusahakan dengan seluruh kemampuan. Tujuan yang bisa berjalan berdampingan dan bahkan menjadi bahan pijakan demi tercapainya impian-impian. 

Ibarat sebuah perusahaan,  impianku adalah visi,  sementara tujuan adalah misi yang harus kuselesaikan. Dan di tahun baru ini,  misiku adalah bisa menghasilkan pundi pundi rupiah dari tulisanku,  serta memonetisasi blogku dengan rutin menulis dan mengasah kemampuan diri di bidang kewirausahaan dan literasi. 

Apakah misi ini hanya akan berakhir sebagai sebuah resolusi seperti tahun-tahun sebelumnya,  entahlah. 
Yang pasti,  salah satu yang bisa kulakukan adalah dengan tetap terhubung dengan komunitas menulis dan literasi,  agar misi menghasilkan dari tulisanku dapat tercapai. Penghasilan yang tak hanya berupa materi semata, namun juga berupa kebermanfaatan atas apa yang aku tuliskan untuk bisa dijadikan ibroh dan pelajaran bagi orang-orang di luar sana. 

Semoga Allah meridhoi apa yang kutuliskan di awal tahun ini,  dan di akhir tahun nanti aku bisa bangga mengatakan MISSION COMPLETE, insyaaAllah. 

Tak Lagi Berlomba Menjadi Seperti Orang Lain

Hai, perkenalkan saya Diah Ellyana. Seorang ibu rumah tangga biasa yang mencoba berbagai aktivitas mulai dari berbisnis dari rum...