Minggu, 12 Juli 2026

Tak Lagi Berlomba Menjadi Seperti Orang Lain


Hai, perkenalkan saya Diah Ellyana. Seorang ibu rumah tangga biasa yang mencoba berbagai aktivitas mulai dari berbisnis dari rumah dan berorganisasi serta berkomunitas.

Nikmat yang Allah berikan berupa otak yang bisa dibilang lumayan, saya gunakan untuk suka belajar, namun justru hal itu seperti membuat saya templok sana templok sini. Ketika ada ilmu baru, saya suka mempelajarinya, tapi penerapannya? Hmmm mungkin menunggu mood balik.
Hal itu terjadi berkali kali. Beragam kelas saya ikuti mulai dari yang receh hingga jutaan, kelas memasak, kelas menulis, kelas pengolahan sampah, kelas kepemimpinan, kelas digital marketing, kelas bisnis, kelas AI bahkan kelas berberes rumah.

Pencapaian orang lain yang saya lihat sering membuat saya "tertarik", emmm sepertinya kata tertarik terlalu sopan ya, bisa dikata saya iri dengan mereka yang berhasil.

Saya yang "seharusnya" bisa meniti karir di luar sana dengan modal yang telah Allah berikan, hanya berakhir terkungkung di dalam rumah sebagai ibu rumah tangga, yang bahkan untuk membeli pembalut pun harus meminta uang pada suami.


Perasaan insecure dan tak berdaya sering berkecamuk dalam diri. Ingin rasanya saya membuat sesuatu yang bisa membuat saya unggul, baik di mata anak, di mata suami maupun di mata orang tua terlebih di mata masyarakat.

Sedikit demi sedikit perasaan tak berdaya membuat saya tak berani melangkah nyata. Beragam kelas yang saya ikuti seperti hanya sebagai pembuktian kalau saya pintar dan suka belajar, sama seperti gelar yang puluhan tahun lalu pernah saya pegang. Saya lupa kalau diri ini sudah tidak lagi berstatus pelajar atau mahasiswa. Sekarang sudah terpampang nyata status Mengurus Rumah Tangga di Kartu Tanda Penduduk yang berlaku seumur hidup di dalam dompet yang saya bawa kemana-mana.


Sampai kapan saya harus bergulat dengan diri, tengok kesana kemari dengan pencapaian fantastis orang-orang yang datang silih berganti di lini masa sosial media.

Hingga akhirnya, suatu hari saya putuskan untuk berhenti berlari, berhenti mengejar sesuatu yang tak pasti. Berhenti menapaki jalan yang memang bukan alur yang saya kehendaki.

Bukankah dulu yang memilih menuliskan status "Mengurus Rumah Tangga" adalah diri saya sendiri? 
Kenapa sekarang saya malah bingung akan hal itu dan cenderung memungkiri? 
Apa karena malu? Atau karena memang saya tak mampu? 
Ternyata jawabannya adalah karena saya terus menerus membandingkan diri dengan orang lain.

Saya terus saja berjalan tengok kanan kiri, tanpa sadar betapa jauh jarak yang telah saya lewati. Saya lupa menikmati perjalanan karena sibuk mengejar pencapaian orang lain. Padahal rute mereka bukanlah jalur yang saya tempuh. Jalur kami berbeda...
Jalur yang sudah saya pilih dan tentukan untuk lalui memang terjal dan berliku namun bukan berarti itu jalan yang salah.

Dan sekarang saya mencoba tengok ke belakang, ternyata sudah banyak yang saya kerjakan.
Kesempatan demi kesempatan datang, bukan tanpa kebetulan, melainkan itu adalah garis suratan yang telah Allah tulis agar saya bisa lebih percaya diri dan mensyukuri apa yang sudah saya miliki.

Sekarang saya mulai menikmati semua peran yang saya emban, tanpa perlu toleh kesana dan kemari.
Sebagai seorang ibu, seorang istri, seorang anak, seorang pelaku usaha, seorang sekretaris Pimpinan Cabang Aisyiyah Kota Bengawan, seorang Ketua Bidang Organisasi dan Kerjasama Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Kota Surakarta, seorang anggota tim Program Sahabat Ibu Pengusaha dan bahkan seorang founder di Rumaya, Rumah Ibu Berdaya semua itu hanya perjalanan yang memang harus saya lalui, sebagai titipan yang Allah beri.

Peran dan amanah yang datang silih berganti mengajarkan saya tanggungjawab, keberanian dan arti melayani. Namun sesungguhnya peran sebenarnya yang saya emban adalah Hamba Allah yang sedang belajar menjalani amanah kehidupan.

Meski di luar terlihat aktif dan percaya diri, ada masa ketika hati dipenuhi rasa tidak cukup dan insecure. Sering membandingkan diri dengan pencapaian orang lain, takut memulai sesuatu, bahkan merasa gagal sebelum benar-benar menyelesaikan apa yang saya mulai. Saya yakin, banyak perempuan lain di luar sana yang sering merasakan hal serupa, menyimpan pergumulan dalam diri di balik senyum dan kesibukan. Karena itulah, melalui tulisan ini saya ingin menjadi salah satu Perempuan Bicara Rasa, mengungkapkan apa yang berkecamuk di dalam diri. Bukan untuk menunjukkan bahwa saya telah sampai di garis akhir, tapi untuk berbagi perjalanan bagaimana saya perlahan belajar menerima diri, berhenti berlomba menjadi orang lain dan menemukan keberanian untuk melangkah menjadi versi terbaik yang Allah beri.

Berita Baik untuk kita semua para perempuan yang merasa diri masih kurang, di luar sana banyak sekali wadah pembelajaran tempat kita bisa mengolah rasa, memupuk percaya dan melahirkan sebuah keniscayaan bahwa perempuan juga bisa berdaya.
Semoga kita semua bisa menemukan versi terbaik dalam diri, menjadi bintang yang akan selalu bersinar di tengah gelapnya langit kehidupan.


#DiNulis
#PercayaDiri
#Insecure 
#Journeyto6thIpedia
#SuaraKitaCeritaKita 
#IpediaBeritaBaik



Tak Lagi Berlomba Menjadi Seperti Orang Lain

Hai, perkenalkan saya Diah Ellyana. Seorang ibu rumah tangga biasa yang mencoba berbagai aktivitas mulai dari berbisnis dari rum...