Dan ternyata benar sekali. Di pertemuan pertama saja, saya sudah harus mengulik lebih dalam tentang permasalahan diri dan mencari akar masalahnya. Di pertemuan selanjutnya kami diminta mengulik lebih dalam tentang potensi diri serta skill yang dimiliki. Apa hubungannya masalah di jurnal pertama dan potensi diri jurnal kali ini? Pikirku waktu itu. Dan taraaa, ternyata kami diminta membuat sebuah gerakan yang bisa berfokus pada akar masalah yang kami hadapi, dengan senjata segala potensi dan kelebihan diri yang Allah beri.
Memang tak salah kelas ini ada di tahap akhir Institut Ibu Profesional, karena memang disinilah puncak dari Core Value Ibu Profesional berada. Di kelas sebelumnya, kami sudah belajar 5B : Belajar, Berkembang, Berkarya, Berbagi dan Berdampak. Disinilah kami buktikan value diri sebagai mahasiswa Institut Ibu Profesional. Bagaimana kami harus membuat gerakan dan mengukur dampaknya bagi diri dan lingkungan di Tahapan ke 3 hingga ke 7. Tak hanya gerakan yang asal bergerak, dan program yang asal dijalankan, tapi gerakan yang terarah, terstruktur dan terukur. Gerakan yang lengkap dengan Golden Rules, Milestone, Prototype dan bahkan sudah dipersiapkan Exit Procedure dari awal. Gerakan yang tak hanya asal berjalan, tapi juga tetap mengacu pada Problem Statement yang diusungnya.
Kadang diri ini takjub, bagaimana bisa seorang ibu rumah tangga bisa mengenal dan belajar tentang Theory Of Change dan Theory Logic Model. Tapi ternyata kami semua bisa melakukannya dan mengaplikasikannya pada gerakan yang kami buat, sungguh sebuah nikmat Allah bagi saya pribadi. Walaupun banyak yang berguguran tapi Alhamdulillah biidznilah saya bisa sampai di tahap akhir jurnal ke 8, yakni membuat sebuah portofolio gerakan.
Gerakan yang saya buat dengan problem statement ibu rumah tangga yang merasa tersingkir dan terpinggir dan tidak berdaya, kini perlahan menjadi wadah bagi ibu rumah tangga agar bisa berdaya, mandiri dan berpenghasilan dari rumah. Gerakan yang mengusung SDGs ke 8 "Penghidupan yang Layak" ini, kami beri nama dengan Rumaya, Rumah Ibu Berdaya. Layaknya rumah yang nyaman ditinggali penghuninya, semoga Rumaya bisa selalu menjadi rumah bagi ibu rumah tangga di luar sana. Ibu rumah tangga yang tak lagi malu mengatakan jati dirinya, dan seorang ibu yang dengan bangga menyebut dirinya sebagai IBU RUMAH TANGGA.