Dunia kerelawanan tergolong baru buat saya, walaupun sudah menemani Pak Suami yang selama 9 tahun pernikahan kami sudah terjun dalam Relawan Muhammadiyah, tapi mengalami dan terjun sendiri di dalamnya memiliki sensasi yang berbeda.
Banyak hal yang saya baru tau, seperti gimana sih gambaran keadaan di lokasi bencana, apa persiapan yang dibutuhkan seorang relawan sebelum terjun ke lokasi bencana, dan bagaimana regulasi penanganan bencana.
Semua ini saya dapatkan setelah mengikuti acara Pembinaan Calon Relawan Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Lembaga Penanggulangan Bencana / MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) Solo.
 |
| Banner Diklat Calon Relawan Muhammadiyah Solo |
Diklat ini dilaksanakan dari bulan September - November 2021 di Balai Muhammadiyah, Jln Teuku Imam no 5 Keprabon, Solo. Pertemuan pertama sekaligus pembukaan dilakukan pada Ahad, 26 September 2021.
Rangkaian acara dibuka oleh Ketua MDMC Solo, H. Sumanto, S.Kep., M.Kes. Beliau menyampaikan perlunya mempersiapkan Relawan Muhammadiyah yang mumpuni, yang bisa menyelamatkan dirinya terlebih dahulu sebelum orang lain, terutama saat terjadi bencana.
Selain pembukaan, hari pertama juga berisi 3 materi, yaitu Materi 1 "Konsep Dasar Penanggulangan Bencana" yang disampaikan oleh Mursito, Ketua Bidang Diklat MDMC Solo, Materi 2 mengenai "Profil MDMC" oleh Eko Susanto, bagian Diklat MDMC Solo serta Materi 3 yang disampaikan oleh PDM Kota Surakarta sekaligus Dewan Pembina MDMC Solo, Drs HM Djoko Riyanto mengenai "Membangun Karakter & Loyalitas Relawan terhadap Persyarikatan Muhammadiyah".
12 tahun berkecimpung di gerakan dakwah Muhammadiyah, baru kali ini saya mendapatkan gambaran jelas bagaimana sistem kerja di dalam Persyarikatan, terlebih hubungan antar Majelis & Lembaga terkait Kebencanaan.
Seperti yang disampaikan oleh Pemateri 1, ternyata Resiko Bencana bisa diukur dengan membandingkan antara besarnya Ancaman (Hazard) dan Kerusakan (Vulnerability) dibandingkan dengan Kapasitas Sumber Daya yang dimiliki oleh suatu daerah bencana. Selain itu saya juga menjadi tahu, pengklasifikasian daerah bencana menjadi 5 kategori :
1. Small Scale, yaitu bencana lokal, dan biasanya penanggulangan bencana dilakukan oleh masyarakat sekitar
2. Large Scale (Bencana Nasional)
Dalam kategori ini status bencana diputuskan oleh presiden, serta ditandai dengan terbukanya jalur bantuan luar negeri.
Contoh kategori ini adalah Gempa Jogja, Tsunami Aceh, Gempa & Tsunami Palu.
Dalam beberapa bencana di atas, MDMC bekerjasama dengan berbagai lembaga dari Australia, Swiss dll dimana setiap lembaga akan fokus di sektor masing-masing.
3. Frequent and Infrequent
Yang termasuk kategori ini adalah Bencana dengan kejadian dari waktu ke waktu
4. Slow Onset
Merupakan bencana yang terjadi secara perlahan - lahan, seperti tanah bergerak dan banjir
5. Sudden Onset
Adalah bencana yang datang secara tiba-tiba seperti Gempa dan Banjir Bandang
Di pertemuan pertama juga disampaikan mengenai Proses Sirkulasi Penanggulangan Bencana.
Selain itu kami juga berdiskusi mengenai bencana yang saat ini sedang kita hadapi, Covid-19. Bagaimana regulasi dan bagaimana penanggulangannya sehingga muncullah MCCC (Muhammadiyah Covid Command Center), divisi khusus untuk Penanganan Covid 19.
Ada beberapa poin di materi ke 3 yang menyita perhatian saya, bagaimana pemateri menjelaskan tentang Macam Manusia dan Motivasi Kerja sangatlah menarik.
Pemateri menerangkan mengenai berbagai tipe manusia yaitu mereka yang BERBICARA, mereka yang BERENCANA, mereka yang MEREALISASIKAN, mereka yang MENGINSPIRASI serta tipe terakhir adalah manusi Luar Biasa yaitu mereka yang YAKIN, KREATIF serta PANTANG MENYERAH.
Selain itu, pemateri juga menerangkan mengenai berbagai Motivasi ketika kita bekerja, diantaranya karena Uang, Karena Nama/ketenaran, karena Panggilan Hati. Dan untuk seluruh relawan Muhammmadiyh diharapkan bisa bekerja karena Lillah, hanya untuk mengharap ridho Allah.
Dari pandangan saya, pelatihan seperti ini tidak hanya diperuntukkan untuk Calon Relawan saja tapi juga perlu dilakukan untuk masyarakat umum. Agar masyarakat Indonesia menjadi lebih sadar dan lebih tangguh bencana. Karena kita tahu, Indonesia berada di Ring of Fire, dimana banyak kemungkinan terjadinya bencana.
Surakarta, 13 Oktober 2021