Minggu, 31 Juli 2022

Ikhlas

Tak terasa bulan Juli sudah sampai di hari terakhir. Banyak sekali yang terjadi di bulan ini,mulai dari rentetan perjuangan kami dan teman-teman menginisiasi Syiar Muktamar Muhammadiyah Cabang Kota Bengawan, proses koordinasi di tim marketing KIPMA, hingga private class yang saya ikuti bersama teman-teman dan tsawab yang tidak jadi ikut Lomba Dongeng. 

Bulan ini saya mulai dengan adanya rapat koordinasi Panitia Syiar Muktamar pertama di tanggal 5 Juli 2022 di SD Muhammadiyah 2 Kauman, dimana disini kami mulai menggelontorkan ide-ide untuk kegiatan Syiar Muktamar Cabang Kota Bengawan, mulai dari adanya Parade Penampilan para siswa, bazar produk Muhammadiyah hingga adanya Pengajian. Semua persiapan sudah kami lakukan dengan maksimal, qadarullah H-3 pelaksanaan, pengisi acara yakni Bp Ali Muchtar jatuh sakit sehingga diharuskan untuk rawat inap di PKU Muhammadiyah Ronggowarsito. Alhamdulillah dan masyaaAllah, dalam kondisi sedang dirawat di rumah sakit, beliau masih berkenan mencarikan ustadz pengganti, hingga ditunjuklah Prof M.A Fattah sbg narasumber di acara kami. 

Alhamdulillah acara berlangsung dengan lancar, persiapan yang dilakukan hingga jam 02 pagi berbuah maksimal. Parade Penampilan AUM mulai dari karawitan, pencak silat, lagu, tari hingga teater mendapat apresiasi yang memuaskan dari para tamu. Beberapa pengisi stand bazar juga cukup puas dengan banyaknya pembeli yang mengunjungi stand mereka.
Bahkan sudah ada yang menanyakan kapan diadakan kembali Bazar seperti ini. 
Alhamdulillah 'ala kulli hal, semua keberhasilan ini murni karena keridhoan Allah atas usaha yang dilakukan teman-teman semua.

Beralih dari Pengajian Syiar, sedikit cerita tentang Lomba Dongeng PAUD Se Kota Surakarta. Tanpa ada pertanda apapun, Bu Hartini, kepala sekolah TK Aisyiyah 5 meminta saya untuk mengikuti Lomba Dongeng anak dan orang tua. Dengan beberapa pertimbangan saya iyakan hal itu. Bahkan dari pihak sekolah meminjamkan Buku Dongeng untuk saya berlatih bersama Tsawab di rumah. Mengetahui dia mau mengikuti sebuah Lomba Dongeng, Tsaaab amat sangat antusias. Dia berlatih san berlatih setiap hari. Dan bahkan Tsawab bilang "akan menang" pada guru-gurunya di sekolah. Hingga tibalah hari H pelaksanaan. Tsawab yang memang sedang tak enak badan, di awal berangkat sudah tak ada semangat. Sampai di tempat pelaksanaan Lomba pun dia terlihat lesu. Apalagi melihat tak ada teman-teman dari sekolahnya seperti peserta lomba dari TK lain yang memang datang berkelompok. Tsawab tak mau ikut lomba dan bahkan hanya tiduran di jalan menuju tempat dilaksanakannya Lomba. 
Padahal sebelumnya dia terlihat bersemangat, dan selalu berlatih dan bahkan sudah saya buatkan alat peraga untuk menunjang penampilan lomba kami. Tapi mau bagaimana lagi.

Inilah definisi, "Hasil adalah Hak Prerogatif Allah"

Tak seperti Pengajian Syiar Muktamar yang Allah meridhoi dan melancarkan kegiatan tersebut, di kegiatan lomba ini saya sudah berusaha maksimal, namun qadarullah memang Allah tak mengijinkan untuk tampil.

Sama seperti kejadian sebelumnya yang saya ikhlas dengan hasil memuaskan, di kejadian ini pun saya juga harus mengikhlaskannya.
 

Jumat, 29 Juli 2022

Pengalaman pertama "Skincare Private Class" bersama Beautylogic Academy

Pertama kalinya ikutan private class, saya memilih untuk merawat diri, wa bil khusus private class mengenai Skincare.

Bukan hanya untuk suami, tapi kata guru kecantikan saya, Mba Addien, merawat wajah adalah bentuk investasi kita sebagai perempuan, selain tentunya sebagai perwujudan rasa syukur atas karunia Allah berupa wajah dan kesehatan yang harus dirawat.


Private class ini berjalan selama 2 hari, 1 hari kelas online via zoom dan hari kedua adalah kelas offline agar kami bisa mengetahui keadaan kulit kami dan bisa memberikan sesuai kebutuhannya.

Oiya private class ini kami lakukan berempat setelah sebelumnya susah sekali menemukan satu waktu yang cocok bagi kami berempat dan mba Addien.

Di kelas online kami belajar mengenai fitrah kulit, mengenai apa saja yang dilakukan kulit sebagai bentuk pertahanan diri yang Allah berikan pada kita, dan bagaimana kita harus merawatnya.

Sepanjang 2 jam sesi materi dan diskusi online kami berlangsung sangat seru. Mba Addien menjelaskan dengan sangat gamblang dan dengan perumpamaan-perumpamaan yang mudah sekali dimengerti. Seperti ketika mba Addien menerangkan mengenai struktur kulit yang terdiri dari epidermis dan dermis. Dimana beliau membuat perumpamaan dermis seperti jala, dimana benang-benang bertaut satu sama lain dan saling menarik sehingga menyebabkan wajah kita menjadi kencang. Namun tautan jala ini bisa terpotong oleh UV A yang menembus hingga ke dermis, oleh karena itu dibutuhkan sunscreen sebagai tools perlindungan yang bisa membantu mengurangi paparan UV A pada kulit kita.

Dan di sesi ini pula kami baru mengetahui arti sebenarnya dari UV A dan UV B, Yakni UV A adalah UV Aging yang menyebabkan penuaan dan bisa menembus langsung ke dermis serta bisa dihalau dengan PA++, serta UV B yaitu UV Burning yang bisa menyebkan wajah terbakar dan menghitam dan bisa dihalau dengan SPF. Selama ini yang saya tau, penggunaan sunscreen hanya dilakukan dari jam 09 pagi hingga jam 3 sore, namun ternyata itu salah kaprah. Karena di pagi hari, tepatnya jam 05.30 ketika matahari mulai bersinar, disitulah UV A mulai memancar dan bisa masuk ke rumah kita melalui jendela, ventilasi dan pintu. Untuk itulah diperlukan pemakaian sunscreen sejak pagi walaupun hanya di dalam rumah. Sementara itu panas matahari yang kita rasakan berasal dari Infrared yang bisa terhalang dengan adanya awan. Selain Infra Red dan UV A, sinar matahari juga mengandung UV B yang mulai memancar ketika matahari mulai panas yakni sekitar jam 10. 

Selain mempelajari tentang struktur kukit dan fitrahnya, dii sesi online kami juga belajar mengenai jenis sunscreen dan pemanfaatannya masing-masing. Ada 2 jenis sunscreen yakni physical sunscreen yang bisa memantulkan sinar matahari serta meninggalkan white cast dan cocok dipakai kulit sensitif dan anak-anak. Serta chemical sunscreen yang bisa menyerap matahari dan terasa ringan. Namun akan memberikan efek panas ketika dibakar. Karena chemical sunscreen akan menyerap UV A dan UV B dari sinar matahari, kemudian mengubahnya menjadi zat lain yang lebih aman untuk kulit. Proses inilah yang bagi sebagian orang pemilik kulit sensitif akan sangat menyiksa, sehingga kebanyakan pemilik kulit sensitif akan lebih memilih memakai physical sunscreen, seperti Wardah UV Shield Sunscreen Gel SPF 30. Dan saya juga baru tau ternyata sunscreen yang selama ini saya pakai, Emina Sun Battle SPF 30, termasuk Chemical Sunscreen, pantas saja sering kerasa panas waktu dipakai. 

Hari kedua Private Class kami berlangsung offline, tepatnya di Solo Paragon Mall. Selain melakan review dari tiap skincare yang kami pakai, mba Adsien juga menganalisa kulit wajah kami. Buanyaaakk sekali yang kami dapatkan, seperti perbedaan Clay Mask dan Mud Mask, sepintas terlihat sama yakni sama2 menyerap minyak, namun ternyata Clay Mask tidak cocok dipakai salah seorang teman kami yang berkulit oily face, karena Clay Mask menyerap minyak hingga mendalam dan bahkan hingga kulit kekeringan, padahal yang menyebabkan kulit berminyak karena kurangnya hidrasi, bisa dibayangkan ketika minyak siangkat hingga habis, malah kelenjar minyak akan memproduksi semakin banyak sebum lagi. Sementara Mud Mask selain menyerap minyak, dia juga bisa melembapkan, itulah kenapa mba Addien menyarankan untuk memakai Mud Mask daripada Clay Mask. 

Setelah lama berdiskusi mengenai setiap tahapan skincare, kami lanjut Skincare Tour dengan mengunjungi dan berbelanja sesuai kebutuhan kulit kami di beberapa Beauty Store yang ada di Solo Paragon, seperti Sociola, Watson dan Guardian. 

MasyaaAllah senang dan bersyukur sekali bisa berkesempatan ikut Private Class ini, selain lebih mengenal diri, kami juga bisa berbelanja skincare sesuai kebutuhan kami saja. 


Solo, 29 Juli 2022


Senin, 11 Juli 2022

Lebih dekat Dengan Quran melalui Quran Jurnaling

Selama ini mengenal Quran hanya sebatas Wahyu Allah, mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW. 
Tak pernah berpikir untuk mentadaburi apalagi menjurnal Quran.

Pertama kalinya ikut kelas online beberapa bulan lalu belum terbersit untuk mulai melakukannya. Qadarullah, biidznillah entah kenapa ketika untuk kedua kali melihat flyer Workshop Quran Jurnalingnya mba Una hati ini jadi tergerak. Tergerak untuk bisa lebih mendalami Quran. Tergerak untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik di bawah bimbingan Allah melalui Al Quran. 
Walau kenyataannya memang seperti diburu waktu dengan agenda-agenda yang sepertinya tak ada gunanya. Benar memang kata Mba Una, kita harus meluangkan waktu untuk Al Quran, bahkan kalau perlu kita paksa diri untuk bercengkrama dengan Al Quran, bukan hanya mendekati Quran di waktu luang saja. Apakah kita bisa menjamin jauhnya Al Quran dengan kita semata hanya karena kita tak ingin saja? Ataukah memang Allah tak ridho kita yang penuh dosa ini mendekat dengan kitab suci bernama Al Quran? Naudzubillah min dzalik.
Semoga kita selalu menjadi bagian hamba yang senantiasa mendapat petunjuk dan keridhoan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Seperti dalam Surat Al Baqoroh ayat 2, 

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ

"Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa"

Tak lain dan tak bukan, petunjuk itu ada di dalam Al Quran.


Workshop hari pertama kami belajar mengenai esensi Quran, bagaimana Al Quran diibaratkan seperti manual book. Setiap mesin maupun barang pasti dilengkapi manual book sebagai petunjuk pemakaian, cara perawatan dll. 
Begitu pula dengan kita, manusia. Manusia diciptakan Allah dilengkapi dengan manual booknya, yaitu Quran. Disana terpampang nyata bagaimana caranya kita menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia, bukan manusia jadi-jadian yang hanya mengikuti hawa nafsu belaka.

Di mentoring hari kedua kami mulai belajar bagaimana menjurnal Quran. Dimulai dengan meluruskan niat untuk memperbaiki diri demi mengundang keridhoan Illahi. Kami juga harus mengadzamkan diri untuk mulai rutin menjurnal Quran 1 ayat per hari. Dan di sesi ini pula saya menjadi tau ada beberapa tahapan dalam memahami Al Quran. Yaitu membaca, membaca arti/terjemahan, membaca dengan tajwid, membaca tafsirnya, serta merefleksikannya.


Di kesempatan pertama saya menjurnal, kami mendapat tugas mentadabburi salah satu ayat syukur yakni Surat Ibrahim : 7. Ayat yang mungkin teramat sangat familiar di telinga banyak orang.

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

"(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras."


Dari Tafsir saya baru tau apa maksud sebenarnya dari ayat ini, sehingga saya bisa merefleksikan dengan kehidupan pribadi serta bisa membuat Action Plan yang akan saya lakukan dan melangitkan doa pada yang Maha Tinggi.

Alhamdulillah 'ala kulli hal, Allah masih memberikan saya kesempatan untuk bisa bercengkerama dan lebih dekat dengan Al Quran. Masih diberi kesempatan lebih untuk mentadabburi Quran dan mendalami arti dari setiap kalam Allah dengan bantuan Kitab Tafsir. Hal yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya adalah akhirnya sekarang saya mulai membuka dan mempelajari Kitab Tafsir. 

Semoga kita semua termasuk dalam sahabat Quran dan bisa mendapat syafaat Quran kelak di hari akhir.
Karena  cukuplah menjadi manusia, tak perlu menjadi ustadz maupun santri untuk mau mempelajari Quran.

Tak Lagi Berlomba Menjadi Seperti Orang Lain

Hai, perkenalkan saya Diah Ellyana. Seorang ibu rumah tangga biasa yang mencoba berbagai aktivitas mulai dari berbisnis dari rum...