Selama ini mengenal Quran hanya sebatas Wahyu Allah, mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW.
Tak pernah berpikir untuk mentadaburi apalagi menjurnal Quran.
Pertama kalinya ikut kelas online beberapa bulan lalu belum terbersit untuk mulai melakukannya. Qadarullah, biidznillah entah kenapa ketika untuk kedua kali melihat flyer Workshop Quran Jurnalingnya mba Una hati ini jadi tergerak. Tergerak untuk bisa lebih mendalami Quran. Tergerak untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik di bawah bimbingan Allah melalui Al Quran.
Walau kenyataannya memang seperti diburu waktu dengan agenda-agenda yang sepertinya tak ada gunanya. Benar memang kata Mba Una, kita harus meluangkan waktu untuk Al Quran, bahkan kalau perlu kita paksa diri untuk bercengkrama dengan Al Quran, bukan hanya mendekati Quran di waktu luang saja. Apakah kita bisa menjamin jauhnya Al Quran dengan kita semata hanya karena kita tak ingin saja? Ataukah memang Allah tak ridho kita yang penuh dosa ini mendekat dengan kitab suci bernama Al Quran? Naudzubillah min dzalik.
Semoga kita selalu menjadi bagian hamba yang senantiasa mendapat petunjuk dan keridhoan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Seperti dalam Surat Al Baqoroh ayat 2,
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ
"Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa"
Tak lain dan tak bukan, petunjuk itu ada di dalam Al Quran.
Workshop hari pertama kami belajar mengenai esensi Quran, bagaimana Al Quran diibaratkan seperti manual book. Setiap mesin maupun barang pasti dilengkapi manual book sebagai petunjuk pemakaian, cara perawatan dll.
Begitu pula dengan kita, manusia. Manusia diciptakan Allah dilengkapi dengan manual booknya, yaitu Quran. Disana terpampang nyata bagaimana caranya kita menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia, bukan manusia jadi-jadian yang hanya mengikuti hawa nafsu belaka.
Di mentoring hari kedua kami mulai belajar bagaimana menjurnal Quran. Dimulai dengan meluruskan niat untuk memperbaiki diri demi mengundang keridhoan Illahi. Kami juga harus mengadzamkan diri untuk mulai rutin menjurnal Quran 1 ayat per hari. Dan di sesi ini pula saya menjadi tau ada beberapa tahapan dalam memahami Al Quran. Yaitu membaca, membaca arti/terjemahan, membaca dengan tajwid, membaca tafsirnya, serta merefleksikannya.
Di kesempatan pertama saya menjurnal, kami mendapat tugas mentadabburi salah satu ayat syukur yakni Surat Ibrahim : 7. Ayat yang mungkin teramat sangat familiar di telinga banyak orang.
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras."
Dari Tafsir saya baru tau apa maksud sebenarnya dari ayat ini, sehingga saya bisa merefleksikan dengan kehidupan pribadi serta bisa membuat Action Plan yang akan saya lakukan dan melangitkan doa pada yang Maha Tinggi.
Alhamdulillah 'ala kulli hal, Allah masih memberikan saya kesempatan untuk bisa bercengkerama dan lebih dekat dengan Al Quran. Masih diberi kesempatan lebih untuk mentadabburi Quran dan mendalami arti dari setiap kalam Allah dengan bantuan Kitab Tafsir. Hal yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya adalah akhirnya sekarang saya mulai membuka dan mempelajari Kitab Tafsir.
Semoga kita semua termasuk dalam sahabat Quran dan bisa mendapat syafaat Quran kelak di hari akhir.
Karena cukuplah menjadi manusia, tak perlu menjadi ustadz maupun santri untuk mau mempelajari Quran.